Entah Kapan aku bisa menukar lelah dengan tawa. Kini biarlah perasaan ini aku sendiri yang menyimpannya. Sungguh aku menjadi si frustasi yang tak bertepi.
Setiap kali rasa takutku datang, entah dalam moment apapun itu. Kau selalu hadir dalam fikiranku.
Sakit itu datang lagi....
Kau lebih dari inpus yang menusuk. Aku selalu berharap bisa memutar waktu kembali. Aku masih ingat, dimana kau menjadi si babi buta karena khawatir ketika aku sakit. Namun itu semua hanya buih buih kenangan.
Aku tak apa dengan keadaanku sekarang.
Aku hanya takut...
Aku takut tidak bisa merasakan, apa yang belum pernah aku rasakan, dan sekarang ingin aku rasakan. (Pelukanmu)
Pelukan dari sosok terbaik yang pernah aku kenal.
Harus berapa kali lagi aku katakan?
AKU MENYESAL!!!
Kau adalah sosok seseorang yang pernah aku sia siakan. Dulu, aku menolakmu habis-habisan. Mungkin(dulu) tiap malam kau selalu berdoa agar aku bisa membalas perasaanmu itu. Namun sekarang, ketika aku sudah mempunyai perasaan itu, kau sudah menjadi milik yang lain.
Sungguh demi apapun aku menjadi si bodoh, mengharapkan sesuatu yang mustahil. Namun asal kau tau. Belum pernah aku mendoakan orang setulus ini, kau adalah orang kedua setelah orang tuaku yang kubawa dalam doa penuh dengan khusyuk.
Aku berdoa, agar memang dia satu satunya wanita yang benar benar kau cari setelah aku. Aku tulus mendoakanmu.
Iya, aku memang harus melupakanmu...
Tapi bagaimana aku bisa melupakanmu, jika kau masih dalam satu lingkaran di kehidupanku?
sekarang biarkan aku menari diatas naungan kenangan atas sikap ter-indah yang pernah kau berikan sekaligus aku sia siakan.
jika bisa ku andaikan, doa dan sabar adalah dua buah mata uang yang harus kugunakan untuk membayar betapa mahalnya harga melupakan.
(Melupakanmu)!!
DARI AKU YANG KUAT NAMUN SEBENARNYA RAPUH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar